1. "

    Jika Tuhan tak mengubah keadaanmu, bisa jadi Ia ingin mengubah hatimu.

    "
    — 

    Teh Fenfen

     

  2. Tetap Tumbuh

    Sebutir biji kenari menggelinding jatuh dari dahan pohon di ujung bukit dan berhenti tepat di atas rekahan tanah gersang di tepi jurang, tanah dipinggiran tebing itu begitu bahagia karena di atasnya akan tumbuh pohon yang telah begitu lama ditunggunya, segera ia sedikit menimbun biji kenari agar bisa tumbuh dan tak dimakan burung, hari-hari telah berlalu hujan dan panas dilaluinya dalam kesendirian tanpa peneduh, tanpa suara, tanpa teman. kini satu batang pohon kenari akan tumbuh di atasnya gembira bukan main ia dibuatnya.

    Hari berganti pekan, pekan berganti bulan dan bulan berganti tahun, tak terasa hampir tiga tahun biji kenari itu tumbuh, kini batangnya mulai meranggas kuat akar-akarnyapun menghujam ke dalam bumi.
    Harapan besar dalam dirinya di dahan pohon kenari itulah ia bisa mendengar cicit burung juga sepoi angin menjatuhkan daun-daun yang berguguran menari-nari kemudian jatuh di atas hamparannya, ia tak akan lagi kesepian.

    Satu malam hujan lebat disertai angin sangat kencang turun, aliran air menelusup kedalam tanah melaui akar-akar pohon kenari muda “krek!” Sedikit tanah bergeser kebawah, bukan main paniknya tanah diujung tebing, harusnya akar pohon kenari muda itulah yang menopangnya tapi karena akarnya belum begitu kuat ia hanya menambah beban, longsor sudah di depan mata baginya.
    Hanya satu batang pohon kenari muda itu yang tumbuh diatas hamparan tanah pinggir tebing, sekali lagi longsor sudah hampir di depan mata.
    Tanah pinggir jurang menyesali keputusannya menumbuhkan pohon kenari, tapi bukankah sekarang atau nanti longsor itu pasti bagi dirinya? Tak bisa ia menyalahkan pohon kenari muda sepenuhnya.
    Kembali ia bertanya, kenapa harus sekarang itu terjadi? saat harapan sudah tumbuh.

    “Kau sudah tumbuh dan aku tak memiliki kuasa untuk membunuh, tumbuhlah dimanapun terserahmu.” Ucapnya sedih pada pohon kenari muda sambil perlahan dirinya menggelosor ke bawah, longsor.

     
  3. Tak Sepadan, Chairil Anwar.

     

  4. Surat Cinta

    Sebuah amplop berwarna biru tergeletak di atas meja kayu jati yang di pernis mengkilap tepat di bawah jendela kamar, seikat bunga liar berwarna merah muda, kuning dan putih keunguan dengan daun-daun yang mulai mengering tersimpan di atasnya.
    Angin sore membelai-belai lembut tiap kelopaknya, semut hitam yang setia di setiap batangnya masih hilir mudik menyesap sisa-sisa sari kehidupan dari tiap kuntum mungilnya.

    Untuk Cinta

    Tulisan tangan tegak bersambung dari tinta hitam tergores rapi di sampul depan amplop surat, mengalamatkan surat itu pada sang pemilik kamar.

    Gadis bernama Cinta yang baru saja kembali setelah meninggalkan kamarnya seharian meraih amplop biru tersebut, di robeknya ujung amplop dengan sangat hati-hati dan di keluarkannya  selembar kertas berbentuk burung bangau dari dalamnya.

    Cinta tersenyum, hanya ada satu kalimat yang tertulis di dalam lipatan kertas itu.

    "Kau tahu, bunga kecil liar yang tumbuh di puncak pegunungan ini adalah kekasih sang surya, mereka tak pernah saling mengucap cinta, tapi mereaksikan segalanya dan meskipun berjauhan mereka tak akan pernah saling meninggalkan, mengapa? karena itu berarti kematian."

    R.

    Pengirim surat tersebut membubuhkan inisial namanya dengan tinta merah, menggelora.

    #1

     
  5. Bidikan mata lensa oleh tangan mungil Shanti.

     

  6. Episode (WS Rendra)

    Kami duduk berdua
    di bangku halaman rumahnya
    pohon jambu di halaman itu
    berbuah dengan lebatnya
    dan kami senang memandangnya.
    Angin yang lewat
    memainkan daun yang berguguran.
    Tiba-tiba ia bertanya:
    “Mengapa sebuah kancing bajumu
    lepas terbuka?”
    Aku hanya tertawa.
    lalu ia sematkan dengan mesra
    sebuah peniti menutup bajuku.
    Sementara itu
    aku bersihkan
    guguran bunga jambu
    yang mengotori rambutnya.

     

  7. Muncang #2

    “Apa kau takut Tuhan tidak memberiku rezeki?” Tanya Suminah pada Tasnim suaminya yang masih menampakkan ekspresi ragu.

    “Pergilah, biar aku dan anak-anak yang mengurus ladang kita, walau pun dua petak kau tahu tanahnya begitu subur,” Suminah menepuk-nepuk punggung suaminya yang hanya berbalut singlet lusuh lagi menguning warnanya.

    “Kau lihat sendiri bang, selain padi sawah kita itu pematangnya bisa ditanami kacang panjang, mentimun dan labu. Jika Tuhan menghendaki sampai dirimu pulang bulan Januari, kita tak akan kehabisan air, sedangkan Siti bisa mengambil daun Kemiri di belakang rumah kita setiap hari, dan…” Seminah tampak antusias meyakinkan Tasnim untuk menjadi kuli proyek listrik ke Kalimantan, mau bagaimana lagi, perhitungannya biaya melahirkan anak dalam kandungannya yang diramalkan bidan sungsang akan memerlukan uang yang banyak. Tasnim membalikkan badannya dan memegang perut Suminah yang membuncit hamil tua.

    “Lalu siapa yang akan membantu jika sewaktu-waktu kamu melahirkan, Nah?” Tasnim memandang wajah Suminah lamat mencari keyakinan jika semua akan baik baik saja, Suminah menundukkan kepalanya.

    Gedung Kayu, 270114

    Bersambung

     

  8. Dua Wanita

    Kami berdua adalah wanita yang sama-sama menitipkan diri pada Dia.
    Dan kami berdua adalah wanita yang Sama-sama saling menitipkan keselamatan diri hanya pada Dia.

    Ibu yang tiada daya dan kuasa, hanya melirih do’a dan menguatkan usaha agar dijaga diri dan putrinya selalu dilindungi serta dijagaNya.

    Sang putri yang sama keadaannya tiada daya dan kuasa, menitipkan diri dan ibunya agar senantiasa dilindungi dan dijaga.

    Bukan, bukan pada makhluk yang mudah tergoda bahkan sama-sama tak berdaya.

    Kami menitipkan diri lemah kami kepada sebaik-baik Penjaga Yang Maha Terpercaya dan tak pernah membuat kami kecewa.
    Kami yakin, itulah yang akan membuat kami selalu dalam keadaan baik-baik saja.

    Bandung 250214

     

  9. Manifestasi Jagad

    Hakikat asmaMu tersebar dan menyebar disegenap penjuru.

    Pun yang hadir pada setiap jengkal nafs-ku.

    Maka harusnya selalu kubiarkan saja ia.

    Datang dan pergi, silahkan saja.

    Terbuka dan tertutup, terserah saja.

    Karena sekecil apapun ia bermaujud

    Kebenaran dan segenap harganya adalah manifestasi dari Kemahagungan asmaMU, Al Haqq.

    Bantaran Cikapundung, 120214